Habeahan Bondar Gorat


Amir Pasaribu
June 6, 2008, 4:44 pm
Filed under: Seni dan Budaya | Tags: , ,

Lahir di Siborong-borong, desa kecil di Tanah Batak. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, dari seorang asisten wedana, keluarganya terbilang berada, semua anak dalam keluarga ini mendapat pendidikan Belanda. Sudah sejak masa anak-anak musik klasik akrab di telinga Amir lewat gramafon ayahnya. Keluarga ini pun mempunyai orgel harmonium, organ yang masih nonelektrik, yang bunyinya berasal dari udara yang dikocok dengan pompa yang digerakan dengan kaki pemainnya. Sejak kecil pula Amir sudah memainkan orgel ini, setelah belajar di gereja Huria Kristen Batak Protestan di desanya, ia juga sering diminta mengiringi nyanyian gereja.

Pada usia 6 tahun, ia masuk HIS (sekolah dasar zaman Belanda) di Narumonda, karena di desanya belum ada HIS. Amir harus masuk asrama karena jarak antara tempat tinggal orang tuanya dan Narumonda cukup jauh. Dikelas 3 Amir dikeluarkan dari sekolah atas keputusan kepala sekolah yang orang Belanda, karena di malam hari ia sering menyelinap dari asrama untuk makan di warung. Ia bosan dengan jatah asrama yang katanya hampir tiap hari makan nasi merah berlauk ikan asin. Ia kemudian dimasukkan sekolah untuk anak-anak Belanda di Padang, Sumatera Barat, berkat teman kakaknya yang waktu itu sudah duduk di MULO (SMP zaman Belanda). Mulanya bapaknya ingin menyekolahkannya di Sibolga saja, masih di Sumatera Utara, tapi tak ada sekolah yang mau menerimanya karena dari HIS Narumonda tak sepotong surat keterangan pun diberikan.

Di Padang inilah awal Amir mengenal musik secara serius. Ini bukan karena di sekolah itu ada sebuah piano, yang selalu dilihatnya dengan keinginan yang tak pernah terlaksana, memainkan piano. Melainkan karena suatu sore ia mendengar musik dari sebuah rumah yang dilewatinya. Melihat keseriusan Amir, pastor Frater Yustianus menawarinya belajar biola, juga piano. Jadilah hampir tiap sore Amir belajar biola dan kemudian piano.

Lulus dari ELS, Amir masuk MULO, di Padang juga. Naik ke kelas 3, ayahnya memindahkannya ke Tarutung, kota di Sumatera Utara, agar lebih dekat ke rumah. Di kota ini tinggal seorang violis, bernama Meneer Bosch kemudian Amir belajar kepada violis itu.

Setamat MULO ia lalu melanjutkan sekolah ke HIK, sekolah guru di Bandung. Sekolah ini mengirimkan siswanya yang serius dan berbakat dalam musik ke guru-guru privat yang memang profesional. Waktu itu memang banyak musisi dari Eropa dan Rusia datang di Hindia Belanda, karena pertunjukan musik kerap diadakan.

Revolusi Bolsyewik di Rusia mengakibatkan banyak profesor musik lari, antara lain ke Jawa. Amir sempat belajar piano kepada Willy van Swers, pianis Belanda. Belajar komposisi kepada James Zwart, juga kepada Joan Giesen. Atas anjuran Zwart, Amir kemudian belajar cello kepada pemain cello Rusia terkenal yang lari ke Jawa, Nicolai Farfolomeyef. Dunia musik profesional dikenal Amir ketika sebuah grup musik dari Filipina masuk ke Jakarta. Grup ini butuh pianis yang bisa baca not dan mengenal musik untuk mengiringi dansa. Bukan hanya soal uang yang lebih dari cukup untuk seorang Amir, pergaulannya ini pun membuatnya harus sering berlatih, dan mempelajari bahasa asing. Ia merasa dilahirkan sebagai orang yang mudah menguasai bahasa.

Tamat dari HIK, tahu ternyata Amir juga pandai menggesek cello, grup Filipina itu mengajaknya bermain di kapal pesiar yang berkeliling ke Jepang dan Australia. Inilah pembuka jalan Amir meneruskan pendidikan musik di sekolah musik Musashini, Jepang, mengambil piano dan cello. Kembali di Jakarta ia diterima bergabung dengan Orkes Radio van Batavia.

Setelah Indonesia merdeka, Amir yang di zaman Jepang sudah bekerja di RRI Jakarta kemudian diangkat sebagai kepala studio musik RRI. Inilah zaman Amir begitu produktif dan aktif. Rupanya hidup seorang musisi dan komponis musik klasik makin berat di Indonesia. Setelah sempat mendirikan kursus musik di Jakarta selepas dari SMIND Yogyakarta, akhirnya Amir mengambil peluang ketika ditawari mengajar di Pusat Kebudayaan Suriname pada tahun 1968. Ia pulang ke Indonesia setelah 27 tahun dinegeri orang. Ia mendapati bahwa dunia musik serius Indonesia masih menghargai ciptaan-ciptaan dari seorang yang total menggunakan hidupnya untuk musik sebagai pemain, komponis, guru, pendiri organisasi Liga Musik Indonesia, kritikus musik.

Nama :

Amir Pasaribu

Lahir :

Siborong-borong, Sumatera Utara, 21 Mei 1915

Pendidikan :

HIS Narumonda, (1930-an)

Europeese Largere School (ELS) Padang, (1930-an)

MULO Padang, (1930-an)

HIK Bandung, (1935-an)

Sekolah Musik Musashini Jepang, (1940)

Karier :

Pemain Cello di Orkes Radio Van Batavia, (1942),

Bekerja di Keimin Bunka Shidoso dan di radio pendudukan Jepang, (1945),

Bekerja di NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep),

Orkes Studio Jakartadan RRI Jakarta, (1952)

Direktur Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta, (1954-1957),

Direktur BI-kursus jurusan Seni Suara (kemudian menjadi jurusan musik di IKIP Jakarta), (1957-1968),

Guru piano dan cello pada Cultureel Centrum Suriname, (1968-1980),

Guru privat piano di Paramaribo, Suriname,(1980-1995)

Karya :

Capung Kecimpung di Cikapundung,Rondino Capriccioso,2 Sonata’’s,Petruk, Gareng, dan Bagong,Rabanara dances,Rabanara dances no.7,Spielstuck,Puisi Bogor,Kesan Langgar (Impressie Langgar),Sampaniara no.1 (Getek silam kali Ancol),6 Variasi Sriwijaya,Bongkoks Bamboo-flute (Orpheus in de dessa),Indihyang,Ball-dance of the river-fish princess’ (Tari Ikan Putri),

Penghargaan :
Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI, (2000)

Anugerah Seni Akademi Jakarta, (2006)

Sumber: www.tamanismailmarzuki.com

Advertisement

2 Comments so far
Leave a comment

Bapatua ini yg punya site http://www.pasaribu.com bukan..??

yap… tepat sekali….

Comment by Manik

Tuh kan… kurang lengkap lagi Research nya.

Seharusnya di cantumkan donk

Horas..!!

Comment by Manik




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.